Kamis, 07 Mei 2015
Contoh Kotra Memori Kasasi Perkara Pidana
Atas suatu putusan pengadilan tingkat pertama atau tingkat banding, sebagaimana halnya dengan putusan pengadilan tinggi, maka para pihak yang tidak puas atau berkeberatan dapat menggunakan upaya hukum kasasi. Sesuai dengan ketentuan KUHAP, pihak yang menggunakan upaya kasasi, selain diharuskan menyatakan atau mengajukan permohonan kasasi dikepaniteraan pengadilan tingkat pertama dan permohonan
Sabtu, 02 Mei 2015
Kato Nan Ampek : Undang Dan Hukum Adat Alam Minangkabau
Oleh: Tuanku Mudo H.Emral Djamal Dt Rajo Mudo
1. Kato Pusako
Kato Pusako, mengambil kias dan ibarat alam berdasar kan Sunnah Nabi Saw.dan kato diwarisi dari niniek secara turun temurun sampai kini dan adakala nya kato pusako itu dari bapak, adakalanya dari Ibu dan dari korong kampung dan kadang-kadang pula ada yang ber tentangan dengan hukum syarak, akan tetapi harus kita memakainya.
Kamis, 30 April 2015
Cupak Usali dan Cupak Buatan: Undang Dan Hukum Adat Alam Minangkaba (U-HAAM)
Oleh: Tuanku Mudo H.Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
Cupak Usali
Cupak Usali artinya azali, asli, ialah yang betul dan benar seumpama melaksanakan kerja yang empat, shalat lima waktu sehari semalam, Jum’at sekali seminggu, sesuai dengan Sunnah Rasul dan Kitabullah, sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang dianut dan diyakini masyarakatnya, tidak boleh ditambah dikurangi. Tagak Luruih,
Undang Dan Hukum Adat Alam Minangkabau : Sandi Adat
Oleh: Tuanku Mudo H. Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
Sandi Adat adalah pancang lantak pasupadan, pancang batas dalam wilayah adat alam Minangkabau, sifatnya keras diumpamakan seperti “batu”, karena itu biasa disebut dengan “batu sandi”. Apabila “batu sandi” digunakan sebagai pancang tanda batas, maka disebut “batu (sem) padan”. Batu Sandi, atau Batu Padan sebagai Sandi Adat, merupakan tanda-tanda
Problematika Adat Minangkabau
Oleh: Tuanku Mudo H. Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
Sabda Nabi Saw. : “Almalu lu’u man tarakal ‘adati”, artinya binasa segala raja / pemimpin sebab meninggalkan hukum adat. (Alhadist, dikutip dari Tambo).
Undang dan Hukum Adat Alam Minangkabau (U-HAAM) telah menegaskan bahwa Cupak adalah esensi hukum adat yang dipakai dan terpakai atau diberlakukan dalam alamnya, dan nilai plusnya bagaikan "pakaian
Sabda Nabi Saw. : “Almalu lu’u man tarakal ‘adati”, artinya binasa segala raja / pemimpin sebab meninggalkan hukum adat. (Alhadist, dikutip dari Tambo).
Undang dan Hukum Adat Alam Minangkabau (U-HAAM) telah menegaskan bahwa Cupak adalah esensi hukum adat yang dipakai dan terpakai atau diberlakukan dalam alamnya, dan nilai plusnya bagaikan "pakaian
Adat Dipakai Baru Kain Dipakai Usang
(Paco-Paco Menguak Tabir Alam Fikiran Minangkabau Lapuak lapuak dikajangi usang usang dipabarui)
Oleh: Emral Djamal Dt. Rajo Mudo
Metafora Adat, Sawah Gadang Padi Satampang Banieh
Banyak kalangan di dunia, mengakui keberadaan orang-orang Minangkabau sebagai sosok komunitas budaya yang ahli kias, ahli adat, ahli sastra, pemikir-pemikir sosial budaya yang tangguh, dan ahli perenungan
Rabu, 29 April 2015
SUMBER-SUMBER HUKUM
Sumber Hukum Material dan Formal
Sumber hukum ialah segala sesuatu yang telah menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, artinya yaitu aturan-aturan yang kalau dilanggar akan mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata. Sumber hukum dapat dibedakan kedalam dua bagian, yaitu sumber hukum dalam arti material dan sumber hukum dalam arti formal.
- 1. Sumber Hukum Material
a. Seorang ahli ekonomi akan mengatakan, bahwa kebutuhan ekonomi dalam masyarakat itulah yang menyebabkan timbulnya Hukum
b. Seorang ahli kemasyarakatan (Sosiolog) akan mengatakan bahwa yang menjadi sumber hukum ialah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
- 2. Sumber Hukum Formal
a. Undang-Undang (statue)
b. Kebiasaan (custom)
c. Keputusan-keputusan Hakim (Jurisprudentie)
d. Traktat (treaty)
e. Pendapat Sarjana Hukum (doktrin)
- a. Undang-undang (statue)
Undang-undang dalam arti material, yaitu setiap peraturan yang dikeluarkan oleh negara atau setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat langsung setiap penduduknya. Misalnya , Ketetapan MPR, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU), Keputusan Presiden (KEPRES), Peraturan Pemerintah (PERDA), dll.
Undang-undang dalam arti formal yaitu setiap peraturan negara yang karena bentuknya disebut Undang-undang atau dengan kata lain setiap keputusan Pemerintah yang merupakan Undang-undang karena cara pembuatannya, misalnya dibuat oleh Pemerintah bersama-sama dengan parlemen atau DPR (pasal 5 ayat 1 UUD 45).
Perbedaan dari keduanya tersebut terletak dari pada sudut peninjauannya. Undang-undang dalam arti material ditinjau dari sudut isinya yang mengikat umum, sedangkan Undang-undang dalam arti formal ditinjau dari segi pembuatan dan bentuknya. Untuk memudahkan dalam membedakan kedua macam pengertian Undang-undang tersebut, maka Undang-undang dalam arti material biasanya digunakan dengan istilah peraturan, sedangkan Undang-undang dalam arti formal disebut dengan Undang-undang.
- b. Kebiasaan (custom)
Dalam hal ini kebiasaan adalah semua aturan yang walaupun tidak ditetapkan oleh pemerintah, tetapi ditaati oleh rakyat. Contoh, apabila seorang komisioner sekali menerima 10% dari hasil penjualan atau pembelian sebagai upah dan hal ini terjadi berulang-ulang dan juga komisioner yang lainpun menerima upah yang sama yaitu 10% maka oleh karena itu timbul suatu kebiasaan yang lambat laun berkembang menjadi hukum kebiasaan (hukum tak tertulis).
Menurut pasal 22 A.B. Hakim yang menolak untuk menyelesaikan suatu perkara dengan alasan bahwa peraturan perundangan yang bersangkutan, tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut untuk dihukum karena menolak mengadili. Dari ketentuan pasal 22 A.B. ini jelaslah bahwa seorang hakim mempunyai hak untuk membuat peraturan sendiri dalam menyelesaikan suatu perkara. Dengan demikian, apabila dalam undang-undang ataupun kebiasaan tidak memberi peraturan yang dapat dipakainya dalam menyelesaikan perkara, maka hakim haruslah membuat peraturan sendiri.
Berdasarkan pasal 22 A.B., maka telah menjadi dasar bagi keputusan hakim lainnya untuk mengadili perkara yang serupa dan keputusan hakim tersebut lalu menjadi sumber hakim bagi pengadilan dan Keputusan Hakim yang demikian disebut hukum Jurisprudensi.
Traktat adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara atau lebih. Jika Traktak diadakan hanya oleh dua negara maka disebut Traktat Bilateral, misalnya perjanjian Internasional yang dilakukan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Cina tentang "Dwi-Kewarganegaraan", sedangkan jika Traktat diadakan oleh lebih dari dua negara maka Traktat itu disebut Traktat Multilateral, misalnya perjanjian Internasional tentang pertahanan bersama negara-negara Eropa (NATO) yang diikuti oleh beberapa negara Eropa. Apabila dalam Traktat Multilateral telah memberikan kesempatan kepada negara-negara yang pada permulaan tidak turut mengadakannya, tetapi kemudian juga menjadi pihaknya, maka traktat tersebut adalah Traktat Kolektif atau Traktat Terbuka, misalnya Piagam Perserikatan Bnagsa-Bangsa.
Dalam hubungan Internasional bahwa setiap pendapat-pendapat para sarjana hukum mempunyai pengaruh besar yang merupakan sumber hukum yang sangat penting bagi hukum Internasional. Telah diakui dalam Piagam Mahkamah Internasional (Statue of the Internasional Court of Justice) pasal 38 ayat I, yaitu bahwa dalam menimbang dan memutus suatu perselisihan dapat mempergunakan beberapa pedoman yang antara lain adalah :
a. Perjanjian-perjanjian Internasional (International conventions)
b. Kebiasaan-kebiasaan Internasional (International customs)
c. Asas-asas hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab (The general principles of law recognised by civilised nations)
- c. Keputusan Hakim (Jurisprudensi)
Menurut pasal 22 A.B. Hakim yang menolak untuk menyelesaikan suatu perkara dengan alasan bahwa peraturan perundangan yang bersangkutan, tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut untuk dihukum karena menolak mengadili. Dari ketentuan pasal 22 A.B. ini jelaslah bahwa seorang hakim mempunyai hak untuk membuat peraturan sendiri dalam menyelesaikan suatu perkara. Dengan demikian, apabila dalam undang-undang ataupun kebiasaan tidak memberi peraturan yang dapat dipakainya dalam menyelesaikan perkara, maka hakim haruslah membuat peraturan sendiri.
Berdasarkan pasal 22 A.B., maka telah menjadi dasar bagi keputusan hakim lainnya untuk mengadili perkara yang serupa dan keputusan hakim tersebut lalu menjadi sumber hakim bagi pengadilan dan Keputusan Hakim yang demikian disebut hukum Jurisprudensi.
- d. Traktat (Treaty)
Traktat adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara atau lebih. Jika Traktak diadakan hanya oleh dua negara maka disebut Traktat Bilateral, misalnya perjanjian Internasional yang dilakukan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Cina tentang "Dwi-Kewarganegaraan", sedangkan jika Traktat diadakan oleh lebih dari dua negara maka Traktat itu disebut Traktat Multilateral, misalnya perjanjian Internasional tentang pertahanan bersama negara-negara Eropa (NATO) yang diikuti oleh beberapa negara Eropa. Apabila dalam Traktat Multilateral telah memberikan kesempatan kepada negara-negara yang pada permulaan tidak turut mengadakannya, tetapi kemudian juga menjadi pihaknya, maka traktat tersebut adalah Traktat Kolektif atau Traktat Terbuka, misalnya Piagam Perserikatan Bnagsa-Bangsa.
- e. Pendapat Sarjana Hukum (doktrin)
Dalam hubungan Internasional bahwa setiap pendapat-pendapat para sarjana hukum mempunyai pengaruh besar yang merupakan sumber hukum yang sangat penting bagi hukum Internasional. Telah diakui dalam Piagam Mahkamah Internasional (Statue of the Internasional Court of Justice) pasal 38 ayat I, yaitu bahwa dalam menimbang dan memutus suatu perselisihan dapat mempergunakan beberapa pedoman yang antara lain adalah :
a. Perjanjian-perjanjian Internasional (International conventions)
b. Kebiasaan-kebiasaan Internasional (International customs)
c. Asas-asas hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab (The general principles of law recognised by civilised nations)
Langganan:
Postingan (Atom)